Rabu, 28 Januari 2015

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DAN PERILAKU ANAK


HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DAN PERILAKU ANAK

 

LATAR BELAKANG

ANAK merupakan cermin orang tuanya. Karena orang tua memiliki peran yang besar membentuk karakter anak.
"Jika kita memberikan dasar yang kuat, maka anak akan tumbuh dengan karakter yang kuat," ujar Psikolog Anak Vera Itabiliana saat menjadi pembicara pada kegiatan media briefing beretajuk "Misi Pahlawan Cilik Pepsodent" di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta.
Pada acara itu hadir pula antara lain pendiri Indonesia Heritage Foundation (Yayasan Warisan Luhur Indonesia) dan Pelopor Pendidikan Holistik Berbasis Karakter Ratna Megawangi, Professional Relationship Manager Oral Care PT Unilever Indonesia Ratu Mirah Afifah, dan moderator Shahnaz Haque.
Menurut Vera, keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi tumbuh kembang anak. Dia menambahkan, berbagai nilai dan norma perilaku positif dapat ditanamkan orang tua melalui pola asuh yang tepat, terutama menjadi teladan bagi anak.
Pola asuh yang tepat bisa membantu orangtua dalam menerapkan nilai-nilai positif kepada anak. Terdapat tiga macam pola asuh yang sering diterapkan orangtua kepada anak, yaitu pola asuh otoriter, permisif, dan demokratis.
Pada pola asuh otoriter, orangtua biasanya sering memaksakan kehendak kepada anak. Hal ini bisa membuat anak depresi dan melakukan pemberontakan di luar rumah. Contohnya dengan mem-bully teman.
Sebaliknya dari pola otoriter adalah pola permisif. Pola asuh ini, orangtua memiliki kebiasaan untuk menuruti keinginan anak, serta cenderung membiarkan jika anak melakukan kesalahan. Dampaknya, anak tidak akan pernah mau belajar dari kesalahan.
Yang ketiga adalah pola asuh demokratis. Pola ini merupakan yang paling ideal diterapkan kepada anak. Dalam pola asuh ini, tetap ada batasan-batasan jelas yang diterapkan kepada anak. Akan tetapi, anak juga diberikan keleluasaan untuk memilih apa yang ingin dilakukan, sehingga mereka bisa belajar arti sebuah konsekuensi.
"Efek positif dari tipe demokratis, anak akan memiliki pribadi bertanggung jawab, percaya diri, dan berani mengambil keputusan sekaligus menanggung konsekuensi," kata Vera.
Sementara Ratna Megawangi menambahkan, kecerdasan bukan sekadar kemampuan akademis.
Dijelaskan dia, kecerdasan dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu kecerdasan akademis (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Untuk membentuk generasi bangsa yang cerdas dan berkarakter, tentu diperlukan keseimbangan di antara ketiganya.

Oleh karena itu, selain memperhatikan kecerdasan akademis, orang tua perlu memperhatikan pembentukan karakter anak.

PENGAJUAN MASALAH

I.              Adakah hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak ?

KERANGKA TEORI

 1. A  TEORI POLA ASUH ORANG TUA

  • Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negative maupun positif.)
  • Pola asuh orang tua merupakan suatu bentuk interaksi antara orang tua kepada anak dalam melakukan kegiatan mendidik , membimbing , merawat , serta melindungi anak , hingga mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya secara dewasa dan mandiri tanpa pendampingan orang tua.
  • Pola asuh orang tua adalah suatu keseluruhan interaksi antara orang tua dengan anak, di mana orang tua bermaksud menstimulasi anaknya dengan mengubah tingkah laku, pengetahuan serta nilai-nilai yang dianggap paling tepat oleh orang tua, agar anak dapat mandiri, tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal.
KESIMPULAN
     
Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan kepada anak dalam membangun pribadi seorang anak agar mampu berinteraksi dengan baik dengan lingkungan sekitarnya

1. B  TEORI ANAK
1.   Pengertian anak adalah Anak (jamak: anak-anak) adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas. Anak juga merupakan keturunan kedua, di mana kata "anak" merujuk pada lawan dari orang tua, orang dewasa adalah anak dari orang tua mereka, meskipun mereka telah dewasa. ( http://id.wikipedia.org/wiki/Anak )

  2.  Anak adalah seorang yang dilahirkan dari perkawinan anatar seorang perempuan dengan seorang laki-laki dengan tidak menyangkut bahwa seseorang yang dilahirkan oleh wanita meskipun tidak pernah melakukan pernikahan tetap dikatakan anak. ( https://andibooks.wordpress.com/definisi-anak/ )

 3.  Menurut Linda Amalia Sari Gumelar, S.IP , anak merupakan harapan dan masa depan bangsa yang harus menjadi perhatian dan dipenuhi haknya dalam segala aspek sejak usia dini , yaitu sejak janin dalam kandungan sampai berumur 6 ( enam ) tahun . 
     
KESIMPULAN

Anak adalah suatu karunia titipan dari Tuhan yang memiliki hak dan kewajiban yang harus dipenuhi dalam membangun kepribadian dirinya sejak kecil hingga sanggup untuk mandiri.

KERANGKA BERFIKIR

 
Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negative maupun positif.

Menurut Baumrind (1967), terdapat 4 macam pola asuh orang tua:
1. Pola asuh Demokratis
2. Pola asuh Otoriter
3. Pola asuh Permisif
4. Pola asuh Penelantar.
 
Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru, dan koperatif terhadap orang-orang lain.

Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas dan menarik diri.
Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial.
Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang moody, impulsive, agresif, kurang bertanggung jawab, tidak mau mengalah, Self Esteem (harga diri) yang rendah, sering bolos, dan bermasalah dengan teman.

Dari karakteristik-karakteristik tersebut di atas, kita dapat mawas diri, kita masuk dalam kategori pola asuh yang mana. Apabila kita memahami pola asuh yang mana yang cenderung kita terapkan, sadar atau tidak sadar, maka kita dapat segera merubahnya.

Kita juga bisa kita melihat, bahwa harga diri  yang rendah terutama adalah disebabkan karena pola asuh orang tua yang penelantar. Banyak sekali para orangtua terutama para wanita karier yang suda mempunyai anak yang lebih cinta kepada pekerjaannya daripada kepada anaknya sendiri. Dia lebih banyak meluangkan waktu untuk mencari uang dan uang. Dia lupa kalau di rumah ada anak-anaknya yang membutuhkan kasih dan sayang dia. Pergi kerja disaat anaknya masih tertidur pulas, lalu pulang ketika anaknya sudah tertidur pulas lagi. Sehingga, anak-anak  lebih mengenal pembantunya daripada sosok ibunya sendiri.
PERUMUSAN HIPOTESIS

1.Ada hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak.
2.Tidak ada hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak.
3.Ada pengaruh antara pola asuh orang tua dan perilaku anak.
4.Tidak ada pengaruh pola asuh orang tua dan perilaku anak.

III.PENGAJUAN HIPOTESIS

Dalam hal ini,Hipotesis nol (H0) adalah : Tidak ada hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak dan Hipotesis Alternatif (H1) adalah : Ada hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak .”Hipotesis Alternatif (H1),inilah yang akan dibuktikan.
Ada dua kondisi pada hal ini  :

1.Tidak ada hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak
2.Ada hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak.

Ada dua kesimpulan yang bisa diambil dalam hal ini :
1.Bukan merupakan sebab akibat.
2.Merupakan sebab akibat.

Hipotesis nol (H0) benar
(Tidak ada hubungan antara Pola Asuh orang tua dengan perilaku anak )
Hipotesis alternatif (H1) benar
(Ada hubungan antara POla asuh orang tua dan perilaku anak)

Menerima hipotesis nol
(bukan merupakan sebab akibat)
Kesimpulan yang benar
Keputusan yang salah
(kesalahan tipe 2)
Menolak hipotesis nol
(merupakan sebab akibat)
Kesimpulan yang salah
(kesalahan tipe 1)
Keputusan yang benar



Dalam hal ini,ada dua kemungkinan untuk  membuat kesimpulan :
1.     Tidak berhubungan merupakan sebab-akibat (kesalahan tipe 1)
2.     Berhubungan bukan merupakan sebab-akibat (kesalahan tipe 2)

III.PENARIKAN KESIMPULAN

Dari berbagai teori dalam kerangka teori dan hipotesis dapat disimpulkan bahwa antara pola asuh orang tua dan perilaku anak berhubungan.Dalam penerapannya Pola asuh orang tua adalah perlakuan yang diberikan kepada anak dalam membangun kepribadian diri seorang anak, sedangkan perilaku anak adalah sikap atau kepribadian yang ditunjukan oleh seorang anak dalam lingkungan sekitarnya. Ini biasanya ketika seorang anak dibentuk dengan baik melalui pola asuh orang tua maka dalam perilakuannya akan memiliki kepribadian yang baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA
http://mendidikanakanak.blogspot.com/2013/04/pengaruh-pola-asuh-terhadap-perilaku.html
http://www.tanyadok.com/anak/tipe-pola-asuh-anak-dan-pengaruhnya-terhadap-karakter-anak
http://www.kajianpustaka.com/2013/04/pola-asuh-orang-tua.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Anak
https://andibooks.wordpress.com/definisi-anak/.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar