HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DAN PERILAKU ANAK
LATAR
BELAKANG
ANAK merupakan cermin orang tuanya.
Karena orang tua memiliki peran yang besar membentuk karakter anak.
"Jika kita
memberikan dasar yang kuat, maka anak akan tumbuh dengan karakter yang
kuat," ujar Psikolog Anak Vera Itabiliana saat menjadi pembicara pada
kegiatan media briefing beretajuk "Misi Pahlawan Cilik Pepsodent" di
Hotel Mulia, Senayan, Jakarta.
Pada acara
itu hadir pula antara lain pendiri Indonesia Heritage Foundation (Yayasan
Warisan Luhur Indonesia) dan Pelopor Pendidikan Holistik Berbasis Karakter
Ratna Megawangi, Professional Relationship Manager Oral Care PT Unilever
Indonesia Ratu Mirah Afifah, dan moderator Shahnaz Haque.
Menurut
Vera, keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi tumbuh kembang anak. Dia
menambahkan, berbagai nilai dan norma perilaku positif dapat ditanamkan orang
tua melalui pola asuh yang tepat, terutama menjadi teladan bagi anak.
Pola asuh
yang tepat bisa membantu orangtua dalam menerapkan nilai-nilai positif kepada
anak. Terdapat tiga macam pola asuh yang sering diterapkan orangtua kepada
anak, yaitu pola asuh otoriter, permisif, dan demokratis.
Pada pola
asuh otoriter, orangtua biasanya sering memaksakan kehendak kepada anak. Hal
ini bisa membuat anak depresi dan melakukan pemberontakan di luar rumah.
Contohnya dengan mem-bully teman.
Sebaliknya
dari pola otoriter adalah pola permisif. Pola asuh ini, orangtua memiliki
kebiasaan untuk menuruti keinginan anak, serta cenderung membiarkan jika anak
melakukan kesalahan. Dampaknya, anak tidak akan pernah mau belajar dari
kesalahan.
Yang ketiga
adalah pola asuh demokratis. Pola ini merupakan yang paling ideal diterapkan
kepada anak. Dalam pola asuh ini, tetap ada batasan-batasan jelas yang
diterapkan kepada anak. Akan tetapi, anak juga diberikan keleluasaan untuk
memilih apa yang ingin dilakukan, sehingga mereka bisa belajar arti sebuah
konsekuensi.
"Efek
positif dari tipe demokratis, anak akan memiliki pribadi bertanggung jawab,
percaya diri, dan berani mengambil keputusan sekaligus menanggung
konsekuensi," kata Vera.
Sementara
Ratna Megawangi menambahkan, kecerdasan bukan sekadar kemampuan akademis.
Dijelaskan
dia, kecerdasan dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu kecerdasan akademis
(IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Untuk membentuk
generasi bangsa yang cerdas dan berkarakter, tentu diperlukan keseimbangan di
antara ketiganya.
Oleh karena
itu, selain memperhatikan kecerdasan akademis, orang tua perlu memperhatikan
pembentukan karakter anak.
PENGAJUAN
MASALAH
I.
Adakah hubungan antara pola asuh orang tua dan
perilaku anak ?
KERANGKA TEORI
1. A TEORI
POLA ASUH ORANG TUA
- Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negative maupun positif.)
- Pola asuh orang tua merupakan suatu bentuk interaksi antara orang tua kepada anak dalam melakukan kegiatan mendidik , membimbing , merawat , serta melindungi anak , hingga mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya secara dewasa dan mandiri tanpa pendampingan orang tua.
- Pola asuh orang tua adalah suatu keseluruhan interaksi antara orang tua dengan anak, di mana orang tua bermaksud menstimulasi anaknya dengan mengubah tingkah laku, pengetahuan serta nilai-nilai yang dianggap paling tepat oleh orang tua, agar anak dapat mandiri, tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal.
KESIMPULAN
Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang
diterapkan kepada anak dalam membangun pribadi seorang anak agar mampu
berinteraksi dengan baik dengan lingkungan sekitarnya
1.
B TEORI ANAK
1.
Pengertian anak adalah Anak (jamak:
anak-anak) adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas. Anak
juga merupakan keturunan kedua, di mana kata "anak" merujuk pada lawan
dari orang tua, orang dewasa adalah anak dari orang tua
mereka, meskipun mereka telah dewasa. ( http://id.wikipedia.org/wiki/Anak )
2. Anak adalah seorang yang dilahirkan dari perkawinan anatar seorang perempuan dengan seorang laki-laki dengan tidak menyangkut bahwa seseorang yang dilahirkan oleh wanita meskipun tidak pernah melakukan pernikahan tetap dikatakan anak. ( https://andibooks.wordpress.com/definisi-anak/ )
2. Anak adalah seorang yang dilahirkan dari perkawinan anatar seorang perempuan dengan seorang laki-laki dengan tidak menyangkut bahwa seseorang yang dilahirkan oleh wanita meskipun tidak pernah melakukan pernikahan tetap dikatakan anak. ( https://andibooks.wordpress.com/definisi-anak/ )
3. Menurut Linda Amalia Sari Gumelar, S.IP , anak merupakan harapan dan masa depan bangsa yang harus menjadi perhatian dan dipenuhi haknya dalam segala aspek sejak usia dini , yaitu sejak janin dalam kandungan sampai berumur 6 ( enam ) tahun .
KESIMPULAN
Anak adalah
suatu karunia titipan dari Tuhan yang memiliki hak dan kewajiban yang harus
dipenuhi dalam membangun kepribadian dirinya sejak kecil hingga sanggup untuk
mandiri.
KERANGKA
BERFIKIR
Pola asuh
orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relative
konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak,
dari segi negative maupun positif.
Menurut
Baumrind (1967), terdapat 4 macam pola asuh orang tua:
1. Pola asuh
Demokratis
2. Pola asuh
Otoriter
3. Pola asuh
Permisif
4. Pola asuh
Penelantar.
Pola asuh
demokratis akan menghasilkan karakteristik anak anak yang mandiri, dapat
mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress,
mempunyai minat terhadap hal-hal baru, dan koperatif terhadap orang-orang lain.
Pola asuh
otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup,
tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian
lemah, cemas dan menarik diri.
Pola asuh
permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsive, agresif,
tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri,
dan kurang matang secara sosial.
Pola asuh
penelantar akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang moody, impulsive,
agresif, kurang bertanggung jawab, tidak mau mengalah, Self Esteem (harga diri)
yang rendah, sering bolos, dan bermasalah dengan teman.
Dari
karakteristik-karakteristik tersebut di atas, kita dapat mawas diri, kita masuk
dalam kategori pola asuh yang mana. Apabila kita memahami pola asuh yang mana
yang cenderung kita terapkan, sadar atau tidak sadar, maka kita dapat segera
merubahnya.
Kita juga
bisa kita melihat, bahwa harga diri yang rendah terutama adalah
disebabkan karena pola asuh orang tua yang penelantar. Banyak sekali para
orangtua terutama para wanita karier yang suda mempunyai anak yang lebih cinta
kepada pekerjaannya daripada kepada anaknya sendiri. Dia lebih banyak
meluangkan waktu untuk mencari uang dan uang. Dia lupa kalau di rumah
ada anak-anaknya yang membutuhkan kasih dan sayang dia. Pergi kerja disaat
anaknya masih tertidur pulas, lalu pulang ketika anaknya sudah tertidur pulas
lagi. Sehingga, anak-anak lebih mengenal pembantunya daripada sosok
ibunya sendiri.
PERUMUSAN
HIPOTESIS
1.Ada
hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak.
2.Tidak ada
hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak.
3.Ada
pengaruh antara pola asuh orang tua dan perilaku anak.
4.Tidak ada
pengaruh pola asuh orang tua dan perilaku anak.
III.PENGAJUAN
HIPOTESIS
Dalam hal
ini,Hipotesis nol (H0) adalah : Tidak ada hubungan antara pola asuh orang tua
dan perilaku anak dan Hipotesis Alternatif (H1)
adalah : Ada
hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak .”Hipotesis Alternatif (H1),inilah yang
akan dibuktikan.
Ada dua
kondisi pada hal ini :
1.Tidak ada
hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak
2.Ada
hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak.
Ada dua
kesimpulan yang bisa diambil dalam hal ini :
1.Bukan
merupakan sebab akibat.
2.Merupakan
sebab akibat.
Hipotesis nol (H0) benar
(Tidak ada hubungan antara Pola Asuh orang tua dengan perilaku anak ) |
Hipotesis alternatif (H1) benar
(Ada hubungan antara POla asuh orang tua dan perilaku anak) |
|
Menerima hipotesis nol
(bukan merupakan sebab akibat) |
Kesimpulan yang benar
|
Keputusan yang salah
(kesalahan tipe 2)
|
Menolak hipotesis nol
(merupakan sebab akibat) |
Kesimpulan yang salah
(kesalahan tipe 1)
|
Keputusan yang benar
|
Dalam hal ini,ada dua kemungkinan untuk membuat
kesimpulan :
1.
Tidak berhubungan merupakan sebab-akibat (kesalahan tipe 1)
2.
Berhubungan bukan merupakan sebab-akibat (kesalahan tipe 2)
III.PENARIKAN
KESIMPULAN
Dari berbagai teori dalam kerangka teori dan hipotesis
dapat disimpulkan bahwa antara pola asuh orang tua dan perilaku anak
berhubungan.Dalam penerapannya Pola asuh orang tua adalah perlakuan yang diberikan kepada anak dalam
membangun kepribadian diri seorang anak, sedangkan perilaku anak adalah
sikap atau kepribadian yang ditunjukan oleh seorang anak dalam lingkungan
sekitarnya. Ini biasanya ketika seorang anak dibentuk dengan baik melalui pola
asuh orang tua maka dalam perilakuannya akan memiliki kepribadian yang baik dan
benar.
DAFTAR PUSTAKA
http://mendidikanakanak.blogspot.com/2013/04/pengaruh-pola-asuh-terhadap-perilaku.html
http://www.tanyadok.com/anak/tipe-pola-asuh-anak-dan-pengaruhnya-terhadap-karakter-anak
http://www.kajianpustaka.com/2013/04/pola-asuh-orang-tua.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Anak
https://andibooks.wordpress.com/definisi-anak/.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar