Minggu, 27 Desember 2015

TOT FASILITATOR FORUM ANAK RIAU 2015

HY ...............
WELCOME TO RIAU

WAH NGGAK NYANGKA BISA SAMPAI SINI ....

Aku dan Tasripul Iman bersama juga dengan tim dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia berangkat ke provinsi Riau dalam rangka memfasilitasi TOT Fasilitator Forum Anak se-Riau 2015.





Sesampai di Riau kami pun beristirahat di hotel Grand Zuri Pekanbaru dan juga mulai mempersiapkan untuk acara esok hari.


NEXT DAY

Acara pembukaan pun dimulai ...
Pada acara pembukaan diawali dengan tarian laksamana kemudian di lanjutkan dengan arahan atau laporan dari kepala BP3KB dan Panitia Pelaksana , kemudian dilanjutkan dengan doa dan foto bersama.



Setelah itu maka materi TOT Fasilitatorpun dimulai...
Diawali dengan Perkenalan dan kontrak belajar ....
Isi kontrak belajarnya pun lucu-lucu dan menarik , yakni
  • Tidak boleh telat 
  • Ibadah tepat waktu
  • Setiap 2 jam diberikan waktu 5 menit untuk update status
  • Saling menghargai
  • No cinta lokasi
  • Fokus pada setiap kegiatan
  • dll
Setelah itu peserta pun beristirahat ....

Pagi pun menjemput datang kembali ....
Kegiatan diawali dengan review dan pre test yang berisi 14 nomor soal tentang seputar KHA untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman anak-anak riau mengenai KHA.

Setelah itu dilanjutkan dengan klarifikasi nilai dimana pada materi ini mereka diminta pandangannya setuju atau tidak setuju dengan pernyataan seputar KHA yang dipaparkan , kemudian lanjut pada pengertian anak dimana mereka diminta untuk mendeskripsikan gambar anak yang di berikan kemudian mempresentasikannya .


Lanjut setelah itu mereka menuliskan kewajiban , hak , dan tanggung jawab mereka pada kertas berwarna kemudian di tempelkan pada kertas besar untuk di kelompokkan dengan hasil teman-teman yang lain.

Kemudian kita melanjutkan pada materi selayang pandang KHA dimana pada materi ini kita bermain cerdas cermat seputar KHA, dan kelompok yang menang adalah kelompok Partisipasi .... ( Mira ,dkk )
 Setelah itu masuk pada kluster 1 dimana membahas mengenai hak sipil dan kebebasan, pada materi ini peserta diminta untuk memetakan gambar , judul , dan keterangan gambar sehingga menjadi sesuai tiap tema gambarnya. kemudian setelah itu dilanjutkan oleh paparan dari pak Dermawan selaku Asisten Deputi Partisipasi dan Pak Krisdianto selaku Kepala Bagian Advokasi Partisipasi Anak.


Lanjut setelah itu materi kluster 2 yakni pengasuhan keluarga dimana pada kluster ini peserta diminta untuk berteater ria alias drama ala forum anak , pada drama ini di ceritakan seorang anak miskin yang orang tuanya hanya penjual sayur dan petani sehingga anaknya harus putus sekolah dan bekerja.

Cerita ini yang kemudian di dramakan oleh peserta ....

Setelah itu mereka diminta untuk mengisi teka teki silang sebelum istirahat pada malam hari ....


NEXT DAY

Matahari kembali menyapa dengan senyumannya ...

Pagi itu dimulai dengan materi dari Psikolog P2TP2A provinsi Riau dan juga dari BNN provinsi Riau  setelah itu dilanjutkan dengan rehat siang kemudian dilanjutkan dengan materi dari tim KPPPA yakni review materi sebelumnya lalu lanjut dengan membahas jawaban teka teki silang kemudian materi kluster 3 yakni kesehatan dasar dan kesejahteraan dimana mereka membuat mading seputar kesehatan.




 Dilanjutkan ke kluster 4 yakni pendidikan dan pemanfaatan waktu luang dimana mereka diminta untuk berdebat memecahkan kasus seputar daerah yang akan di gusur demi perusahaan besar, dan dilanjutkan dengan kluster 5 yakni perlindungan khusus , yakni paparan dari pak Dermawan seputar 15 anak yang membutuhkan perlindungan khusus


Kemudian di tutup dengan meriah oleh anak anak dan semua pendamping


TIDUR SIANG DI PINGGIR DANAU
ADA PEDAGANG MELIHAT SAMBIL TERTAWA
TERIMA KASIH SELAMA DI RIAU
ADEK ADEK SEMUA LUAR BIASA


BELI NANAS DI PASAR BAWAH
MAKANNYA DI BAWAH KALI
JIKA ADEK ADEK SEMUA BAHAGIA
BOLEHLAH KAMI DATANG KEMBALI

Sekian cerita hari ini ..........

KAMI ANAK RIAU SANTUN BERUCAP TEGUH BERTEKAD ....


Jumat, 10 April 2015

PEMILIHAN DUTA ANAK SULAWESI SELATAN 2015/2016

PEMILIHAN DUTA ANAK SULAWESI SELATAN
2015/2016

Pemilihan duta anak Sulawesi selatan diadakan setiap tahunnya. Adapun syarat dan ketentuan agar dapat mengikuti proses pemilihan adalah sebagai berikut;

Syarat Peserta:

  1. Usia maksimal 17 Tahun (Tidak tercatat sebagai siswa/i kelas 3 SMA pada tahun ajaran 2015/2016 , dibuktikan dengan penyertaan Foto Copy Akta Kelahiran, Foto Copy Rapor Semester Terakhir)
  2. Telah mengikuti Seleksi sebagai Duta Anak di daerah masing-masing. (Dibuktikan dengan penyertaan Dokumentasi, SK kepengurusan/Sertifikat Duta Anak Daerah/dokumen lain yang bersangkutan)
  3. Dibekali pengetahuan tentang UU Perlindungan Anak, Hak dan Kewajiban Anak, Masalah-Masalah Anak di Daerah masing-masing dan Pengetahuan Anak yang lainnya.
  4. Berdomisili di Daerah Perwakilan
  5. Mampu menguasai Bahasa Indonesia dengan fasih. Tuntutan untuk melakukan berbagai tugas yang berhubungan dengan Public Speaking.
  6. Bersedia mengikuti Kongres Anak Indonesia dan Forum Anak Nasional 2015
Ketentuan untuk mengikuti Pemilihan :

  1. Memenuhi syarat yang telah ditentukan
  2. Setiap daerah hanya dapat mendelegasikan 1 Pembina dan 4 Orang Duta Anak Daerah(2 cowok/ 2 cewek)
  3. Menyertakan hal berikut;
    a. Membuat Essay (untuk SMA), yang bertemakan Masalah Anak di Daerah Asal Peserta
    b. Membuat Cerpen (Untuk SMP), yang bertemakan Peduli Anak
    c. Membuat Lukisan/Gambaran (Untuk SD), yang bertemakan Hak Anak dan Kewajiban Anak
  4. Setiap delegasi menggunakan baju daerah masing-masing pada malam festival anak Sul-Sel
  5. Setiap delegasi/daerah menyiapkan penampilan Seni pada malam festival anak Sul-Sel
  6. Setiap delegasi/daerah membawa karya seni (kerajinan tangan/makanan khas/ dll) yang akan ditampilkan pada pameran Festival Anak Sul-Sel
  7. Membawa perlengkapan pribadi
  8. Membawa perlengkapan penunjang lainnya

Kamis, 29 Januari 2015

FGD Partisipasi Anak di KPAI ( Komisi Perlindungan Anak Indonesia ) tahun 2014

FGD Partisipasi Anak di KPAI ( Komisi Perlindungan Anak Indonesia ) tahun 2014


Halo sahabat se- tanah air ...
Kali ini saya ingin berbagi pengalaman seputar kegiatan FGD Partisipasi Anak di KPAI tahun kemarin yang membahas tentang " ANAK INDONESIA BICARA KEKERASAN DI SEKOLAH "


Menurut data dari KPAI , kekerasan dari guru ke siswa itu 83 % dan kekerasan dari siswa ke siswa lainnya itu sebanyak 78,3 % . Hal ini menunjukan bahwa sungguh miris dunia pendidikan di Indonesia. Faktor utama yang mendasari terjadinya kekerasan ini sering dipicu karena adanya bullyng di antara guru ke siswa atau dari siswa ke siswa lainnya. Hal ini lama kelamaan akan berujung pada kekerasan terhadap anak baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam kesempatan ini hadir juga teman-teman dari beberapa sekolah di DKI Jakarta , beberapa organisasi di dunia pendidikan , forum pemerhati anak , yayasan pemerhati anak , dan tak ketinggalan juga teman-teman dari Forum Anak Jakarta (FORAJA) serta perwakilan Forum Anak Nasional yang diwakili oleh saya dan Nathasya dari SFAN .


Selama acara ini berlangsung setidaknya banyak hal yang dibahas , mulai dari apa masalah yang sering muncul di dunia pendidikan hingga pada bagaimana mewujudkan sekolah ramah anak. Tak kalah serunya ketika para siswa yang hadir menyampaikan keluh kesah mereka bahkan curhat kepada pemerintah tentang dunia pendidikan saat ini. Banyak hal yang sangat menyedihkan ketika anak-anak yang hadir menceritakan apa yang menjadi batu sandungan mereka dalam menempuh pendidikan . Ternyata hampir bahkan semua sekolah rentan dengan adanya tindak kekerasan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini terjadi :

1. Guru ke siswa :
  • Pola relasi kekuasaan
  • Adanya paham yang sudah tertanam bahwa guru lebih berkuasa daripada siswa
  • Pola Asuh turun temurun
2. Siswa ke siswa :

       Dimana masih tertanam bahwa kuat membully yang lemah serta pola asuh yang salah di rumah sehingga  terbawa ke sekolah.

Dalam FGD ini juga dibahas bahwa seringkali seolah menomor duakan bakan dan minat siswa . Sehingga didalam kegiatan ekskul sering terjadi kekerasan.  KPAI menyampaikan bahwa kita harus mencegah kekerasan yang terjadi di dalam ekskul bukan ekskulnya yang di cegah , menghilangkan bullyng di sekolah , menjadikan kepentingan anak menjadi kepentingan , dan di dunia pendidikan orang tua juga harus berperan dalam mengontrol, dan mengasuh anaknya sebab pendidikan bukan hanya peran guru saja tetapi peran orang tua juga bahkan peran masyarakat juga bahwa perlu kita ingat bahwa proses pendidikan bukanlah proses yang usai.



ehhhh.... pas pulang ketemu tulisan ini .....



AYO LINDUNGI ANAK INDONESIA ^_^


Rabu, 28 Januari 2015

Konsultasi Anak Nasional bersama BAPPENAS dan UNICEF


Tadaaaaa.....
Ini dia kegembiraan yang paling indah ...

Ini pendapat sebuah koran lokal yang saya kutip tentang acara di atas ....

"Pelajar SMAN 1 Makale Treatment M. Kabanga'dan siswa SMAN 3 Makale Kabupaten Tana Toraja diundang Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). Mereka mewakili Sulsel berdasarkan nomor undangan OA12/DTI.3/01/2014, Perihal: Undangan Sebagai Peserta Konsultasi Anak dalam rangka Penyususnan RPJMM 2015-2019 Bidang Perlindungan Anak. Hal tersebut diungkapkan Dice Kondorura, S.Sos. MM, pelaksana tugas (Plt) Keluarga Berencana Daerah Pemberdayaan Perempuan (BKKBPP) Kabupaten Tana Toraja. Beliau juga mengatakan bahwa keduanya akan mengikuti kegiatan ini selama dua hari, dengan harapan keduanya dapat menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman tentang prosese pembuatan berbagai program pembangunan, khususnya keduanya mampu menjabarkan kebijakan pemerintah ke generasi muda ke depan. Kegiatan ini bertujuan untuk mendengarkan pendapat dan masukan anak sebagai penerima dampak langsung rencana pembangunan perlindungan anak (yang ditujukan kepada anak) untuk 5 tahun ke depan. Juga untuk mengakomodasi konsultasi anak dalam rangka memilih satu hak dan prinsip mendasar pemenuhan hak anak. Pembina Generasi Berencana (Genro) ini menyatakan dengan terpanggilnya Treatment M. Kabanga' siswa SMAN 1 Makale mewakili Sulsel ke BAPPENAS, itu adalah hal yang logis dan tepat. Karena seorang Treatment memiliki kecerdasan dan kemampuan untuk menyuluhi teman-teman sebayanya secara khusus di Kabupaten Tana Toraja untuk membantu melakukan sosialisasi atau penyuluhan tentang seks bebas, narkoba, dan HIV/AIDS "

Penganugerahan Tunas Muda Pemimpin Indonesia oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia


Tunas Muda Pemimpin Indonesia siapa sih yang nggak tau ....
Suatu penghargaan terbesar di kalangan forum anak se-Indonesia
Hal ini merupakan suatu wujud apresiasi pemerintah kepada anak indonesia yang telah berkarya di dunia anak.
Puji Tuhan di tahun 2014 yang lalu anak indonesia mempercayakan saya untuk menerima penghargaan ini , suatu kebahagiaan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata kata
Semua ini merupakan anugerah serta hadiah terbesar di tahun 2014.
Bukan berarti harus menyombongkan diri dengan semua hal ini , tetapi semua hal ini merupakan sebuah tanggung jawab dan amanah bagi saya untuk terus dan lebih lagi menyuarakan hak anak anak indonesia .
Saya dan delapan anak lainnya sangat bersyukur atas apa yang telah kami raih sampai hari ini , perjuangan kami dalam menyuarakan hak-hak anak tidak akan berhenti sampai disini tapi akan terus berlanjut ...


ISTIMEWA ITU KETIKA KITA MAU BERBAGI KEPADA SESAMA DALAM SEGALA HAL....

HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DAN PERILAKU ANAK


HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DAN PERILAKU ANAK

 

LATAR BELAKANG

ANAK merupakan cermin orang tuanya. Karena orang tua memiliki peran yang besar membentuk karakter anak.
"Jika kita memberikan dasar yang kuat, maka anak akan tumbuh dengan karakter yang kuat," ujar Psikolog Anak Vera Itabiliana saat menjadi pembicara pada kegiatan media briefing beretajuk "Misi Pahlawan Cilik Pepsodent" di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta.
Pada acara itu hadir pula antara lain pendiri Indonesia Heritage Foundation (Yayasan Warisan Luhur Indonesia) dan Pelopor Pendidikan Holistik Berbasis Karakter Ratna Megawangi, Professional Relationship Manager Oral Care PT Unilever Indonesia Ratu Mirah Afifah, dan moderator Shahnaz Haque.
Menurut Vera, keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi tumbuh kembang anak. Dia menambahkan, berbagai nilai dan norma perilaku positif dapat ditanamkan orang tua melalui pola asuh yang tepat, terutama menjadi teladan bagi anak.
Pola asuh yang tepat bisa membantu orangtua dalam menerapkan nilai-nilai positif kepada anak. Terdapat tiga macam pola asuh yang sering diterapkan orangtua kepada anak, yaitu pola asuh otoriter, permisif, dan demokratis.
Pada pola asuh otoriter, orangtua biasanya sering memaksakan kehendak kepada anak. Hal ini bisa membuat anak depresi dan melakukan pemberontakan di luar rumah. Contohnya dengan mem-bully teman.
Sebaliknya dari pola otoriter adalah pola permisif. Pola asuh ini, orangtua memiliki kebiasaan untuk menuruti keinginan anak, serta cenderung membiarkan jika anak melakukan kesalahan. Dampaknya, anak tidak akan pernah mau belajar dari kesalahan.
Yang ketiga adalah pola asuh demokratis. Pola ini merupakan yang paling ideal diterapkan kepada anak. Dalam pola asuh ini, tetap ada batasan-batasan jelas yang diterapkan kepada anak. Akan tetapi, anak juga diberikan keleluasaan untuk memilih apa yang ingin dilakukan, sehingga mereka bisa belajar arti sebuah konsekuensi.
"Efek positif dari tipe demokratis, anak akan memiliki pribadi bertanggung jawab, percaya diri, dan berani mengambil keputusan sekaligus menanggung konsekuensi," kata Vera.
Sementara Ratna Megawangi menambahkan, kecerdasan bukan sekadar kemampuan akademis.
Dijelaskan dia, kecerdasan dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu kecerdasan akademis (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Untuk membentuk generasi bangsa yang cerdas dan berkarakter, tentu diperlukan keseimbangan di antara ketiganya.

Oleh karena itu, selain memperhatikan kecerdasan akademis, orang tua perlu memperhatikan pembentukan karakter anak.

PENGAJUAN MASALAH

I.              Adakah hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak ?

KERANGKA TEORI

 1. A  TEORI POLA ASUH ORANG TUA

  • Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negative maupun positif.)
  • Pola asuh orang tua merupakan suatu bentuk interaksi antara orang tua kepada anak dalam melakukan kegiatan mendidik , membimbing , merawat , serta melindungi anak , hingga mampu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya secara dewasa dan mandiri tanpa pendampingan orang tua.
  • Pola asuh orang tua adalah suatu keseluruhan interaksi antara orang tua dengan anak, di mana orang tua bermaksud menstimulasi anaknya dengan mengubah tingkah laku, pengetahuan serta nilai-nilai yang dianggap paling tepat oleh orang tua, agar anak dapat mandiri, tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal.
KESIMPULAN
     
Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan kepada anak dalam membangun pribadi seorang anak agar mampu berinteraksi dengan baik dengan lingkungan sekitarnya

1. B  TEORI ANAK
1.   Pengertian anak adalah Anak (jamak: anak-anak) adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas. Anak juga merupakan keturunan kedua, di mana kata "anak" merujuk pada lawan dari orang tua, orang dewasa adalah anak dari orang tua mereka, meskipun mereka telah dewasa. ( http://id.wikipedia.org/wiki/Anak )

  2.  Anak adalah seorang yang dilahirkan dari perkawinan anatar seorang perempuan dengan seorang laki-laki dengan tidak menyangkut bahwa seseorang yang dilahirkan oleh wanita meskipun tidak pernah melakukan pernikahan tetap dikatakan anak. ( https://andibooks.wordpress.com/definisi-anak/ )

 3.  Menurut Linda Amalia Sari Gumelar, S.IP , anak merupakan harapan dan masa depan bangsa yang harus menjadi perhatian dan dipenuhi haknya dalam segala aspek sejak usia dini , yaitu sejak janin dalam kandungan sampai berumur 6 ( enam ) tahun . 
     
KESIMPULAN

Anak adalah suatu karunia titipan dari Tuhan yang memiliki hak dan kewajiban yang harus dipenuhi dalam membangun kepribadian dirinya sejak kecil hingga sanggup untuk mandiri.

KERANGKA BERFIKIR

 
Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negative maupun positif.

Menurut Baumrind (1967), terdapat 4 macam pola asuh orang tua:
1. Pola asuh Demokratis
2. Pola asuh Otoriter
3. Pola asuh Permisif
4. Pola asuh Penelantar.
 
Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru, dan koperatif terhadap orang-orang lain.

Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas dan menarik diri.
Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial.
Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang moody, impulsive, agresif, kurang bertanggung jawab, tidak mau mengalah, Self Esteem (harga diri) yang rendah, sering bolos, dan bermasalah dengan teman.

Dari karakteristik-karakteristik tersebut di atas, kita dapat mawas diri, kita masuk dalam kategori pola asuh yang mana. Apabila kita memahami pola asuh yang mana yang cenderung kita terapkan, sadar atau tidak sadar, maka kita dapat segera merubahnya.

Kita juga bisa kita melihat, bahwa harga diri  yang rendah terutama adalah disebabkan karena pola asuh orang tua yang penelantar. Banyak sekali para orangtua terutama para wanita karier yang suda mempunyai anak yang lebih cinta kepada pekerjaannya daripada kepada anaknya sendiri. Dia lebih banyak meluangkan waktu untuk mencari uang dan uang. Dia lupa kalau di rumah ada anak-anaknya yang membutuhkan kasih dan sayang dia. Pergi kerja disaat anaknya masih tertidur pulas, lalu pulang ketika anaknya sudah tertidur pulas lagi. Sehingga, anak-anak  lebih mengenal pembantunya daripada sosok ibunya sendiri.
PERUMUSAN HIPOTESIS

1.Ada hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak.
2.Tidak ada hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak.
3.Ada pengaruh antara pola asuh orang tua dan perilaku anak.
4.Tidak ada pengaruh pola asuh orang tua dan perilaku anak.

III.PENGAJUAN HIPOTESIS

Dalam hal ini,Hipotesis nol (H0) adalah : Tidak ada hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak dan Hipotesis Alternatif (H1) adalah : Ada hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak .”Hipotesis Alternatif (H1),inilah yang akan dibuktikan.
Ada dua kondisi pada hal ini  :

1.Tidak ada hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak
2.Ada hubungan antara pola asuh orang tua dan perilaku anak.

Ada dua kesimpulan yang bisa diambil dalam hal ini :
1.Bukan merupakan sebab akibat.
2.Merupakan sebab akibat.

Hipotesis nol (H0) benar
(Tidak ada hubungan antara Pola Asuh orang tua dengan perilaku anak )
Hipotesis alternatif (H1) benar
(Ada hubungan antara POla asuh orang tua dan perilaku anak)

Menerima hipotesis nol
(bukan merupakan sebab akibat)
Kesimpulan yang benar
Keputusan yang salah
(kesalahan tipe 2)
Menolak hipotesis nol
(merupakan sebab akibat)
Kesimpulan yang salah
(kesalahan tipe 1)
Keputusan yang benar



Dalam hal ini,ada dua kemungkinan untuk  membuat kesimpulan :
1.     Tidak berhubungan merupakan sebab-akibat (kesalahan tipe 1)
2.     Berhubungan bukan merupakan sebab-akibat (kesalahan tipe 2)

III.PENARIKAN KESIMPULAN

Dari berbagai teori dalam kerangka teori dan hipotesis dapat disimpulkan bahwa antara pola asuh orang tua dan perilaku anak berhubungan.Dalam penerapannya Pola asuh orang tua adalah perlakuan yang diberikan kepada anak dalam membangun kepribadian diri seorang anak, sedangkan perilaku anak adalah sikap atau kepribadian yang ditunjukan oleh seorang anak dalam lingkungan sekitarnya. Ini biasanya ketika seorang anak dibentuk dengan baik melalui pola asuh orang tua maka dalam perilakuannya akan memiliki kepribadian yang baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA
http://mendidikanakanak.blogspot.com/2013/04/pengaruh-pola-asuh-terhadap-perilaku.html
http://www.tanyadok.com/anak/tipe-pola-asuh-anak-dan-pengaruhnya-terhadap-karakter-anak
http://www.kajianpustaka.com/2013/04/pola-asuh-orang-tua.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Anak
https://andibooks.wordpress.com/definisi-anak/.

Minggu, 25 Januari 2015

STATISTIKA

Statistik


Statistika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data. Singkatnya, statistika adalah ilmu yang berkenaan dengan data. Istilah 'statistika' (bahasa Inggris: statistics) berbeda dengan 'statistik' (statistic). Statistika merupakan ilmu yang berkenaan dengan data, sedang statistik adalah data, informasi, atau hasil penerapan algoritma statistika pada suatu data. Dari kumpulan data, statistika dapat digunakan untuk menyimpulkan atau mendeskripsikan data; ini dinamakan statistika deskriptif. Sebagian besar konsep dasar statistika mengasumsikan teori probabilitas. Beberapa istilah statistika antara lain: populasi, sampel, unit sampel, dan probabilitas.
Statistika banyak diterapkan dalam berbagai disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu alam (misalnya astronomi dan biologi maupun ilmu-ilmu sosial (termasuk sosiologi dan psikologi), maupun di bidang bisnis, ekonomi, dan industri. Statistika juga digunakan dalam pemerintahan untuk berbagai macam tujuan; sensus penduduk merupakan salah satu prosedur yang paling dikenal. Aplikasi statistika lainnya yang sekarang popular adalah prosedur jajak pendapat atau polling (misalnya dilakukan sebelum pemilihan umum), serta hitung cepat (perhitungan cepat hasil pemilu) atau quick count. Di bidang komputasi, statistika dapat pula diterapkan dalam pengenalan pola maupun kecerdasan buatan.
a.    Statistik adalah sebuah konstanta atau angka yang diperoleh dari seluruh sampel atas dasar perhitungan matematis tertentu sedangkan
Statistika adalah tehnik untuk mengumpulkan data, menganalisis dan mengambil kesimpulan tentang data dimaksud.


b.    Statistik deskriptif : ilmu yang mempelajari tata cara penyusunan data, penentuan nilai-nilai statistic dan digambarkan kedalam  tabel, gambar diagram dan grafik.
Statistik inferensial : ilmu statistik yang mempelajari tata cara penarikan kesimpulan/keputusan mengenai keseluruhan data atau populasi berdasarkan sebagian data atau sampel dari populasi tersebut.
Perbedaan utama antara keduanya :
Statistik deskrptif tidak bersifat general (tidak bisa diberlakukan kepada seluruh populasi) sedangkan inferensial selalu melakukan generalisasi.
c.     Statistik parametric : adalah statistic yang datanya harus data interval atau rasio dan data dari populasi berdistribusi normal.
Statistik non parametric : adalah statistic yang datanya data nominal dan ordinal  dan data dari populasi berdistribusi bebas.

 Klasifikasi data beserta contohnya :
 
·         Data kuantitatif : data yang berbentu bilangan angka-angka
Contoh : data bahan baku, data jumlah siswa, data gaji karyawan
1.       Data Diskrit : Data yang didapat dari hasil menghitung/membilang.
Contoh=        -      data jumlah siswa
-          Data jumlah kursi
2.       Data kontinum : data yang diperoleh dari hasil mengukur
Contoh=        -      data berat badan,
-          Data jarak tempuh
Data ini ada 3 yaitu Ordinal, interval, rasio.
Data ordinal= Data yang berjenjang/bertingkat
Data interval= data yang jaraknya sama tetapi tidak 0 (tidak absolute/mutlak)
          Dalam data ini meski nilainya 0 tetapi tetap memiliki nilai.
Data rasio= data yang jarakya sama tetapi memiliki nilai 0 yang absolute (0 tidak ada nilainya )
 
·         Data kualitatif : adalah data yang berupa kategori, sifat atau ciri khas tertentu dalam bentuk data gambar, rekaman maupun dokumen.
Contoh : -     Sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, sangat tidak setuju.
-       Tinggi, sedang, rendah
-       Puas, tidak puas
Sampel yang digunakan dalam penelitian harus representative dengan tujuan agar sampel yang akan diambil datanya benar-benar mewakili keseluruhan data sampel yang dibutuhkan dari populasi.
4. Pedoman umum dalam menentukan uji statistic :
Langkah-langkah dalam membuat tabel distribusi frekwensi :
1.       Menentukan kelas interval
2.       Frekwensi
3.       Nilai tengah kelas atau titik tengah kelas
4.       Menentukan tepi kelas
5.       Menentukan kumulatif kurang dari (batas bawah)
6.       Menentukan kumulatif lebih dari (batas atas )
 Perbedaan antara statistic deskriptif dengan penelitian deskriptif.
      Statistic deskriptif : ilmu yang mempelajari tata cara penyusunan data, penentuan nilai-nilai statistic dan digambarkan kedalam  tabel, gambar diagram dan grafik.
      Penelitian deskriptif : yaitu suatu bentuk penelitian yang tidak membandingkan ataupun menghubingkan, dan hanya terdiri dari satu variable.
Statistik sebagai teknik penyajian data :
      Pada dasarnya penyajian data harus bersifat komunikatif dan lengkap dalam artian data yang akan disajikan dapat menarik perhatian pihak lain untuk membacanya serta mudah untuk memahaminya.
      Penyajian data yang komunikatif penyajiannya dapat dibuat banyak warna. Contoh dalm bentuk diagram, grafik, kurve
Bagian-bagian yang harus ada dalam pembuatan tabel :
1.       Judul tabel
2.       Judul kolom
3.       Nilai data setiap kolom
4.       Sumber data (dimana data diperoleh )
Penyajian data yang bersifat komunikatif dan lengkap artinya data yang akan disajikan dapat menarik perhatian pihak lain untuk membacanya, mudah untuk memahaminya, serta mudah dimengerti dan dipahami.